Suasana ruang teater Perpustakaan Nasional RI di Jalan Salemba Raya Nomor 28 A tampak berbeda pada Senin, 12 Januari 2026 lalu. Energi muda dari perwakilan mahasiswa Ilmu Perpustakaan se-Indonesia berkumpul dalam gelaran Kongres Luar Biasa Himpunan Mahasiswa Perpustakaan dan Informasi Indonesia (KLB HMPII). Acara ini bukan sekadar seremoni organisasi biasa, melainkan momentum penting untuk menata ulang arah gerak mahasiswa informasi di tengah disrupsi digital yang kian kencang.
Acara dibuka dengan hangat oleh Dr. Agus Sutoyo, M.Si., yang saat ini menjabat sebagai Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan, Perpustakaan Nasional RI. Dalam sambutannya, beliau menekankan bahwa Perpustakaan Nasional akan selalu menjadi rumah bagi mahasiswa untuk berkembang. Kehadiran tokoh-tokoh senior di tengah mahasiswa ini memberikan sinyal kuat bahwa estafet kepemimpinan di dunia kepustakawanan sedang dipersiapkan dengan matang sejak bangku kuliah.
Tak ketinggalan, Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI), Bapak Joko Santoso, M.Hum., turut memberikan arahan yang membakar semangat. Beliau menyampaikan pandangan menarik bahwa organisasi mahasiswa seperti HMPII adalah inkubator pustakawan profesional. Menurutnya, di sinilah mentalitas, etika, dan jejaring calon pustakawan diuji sebelum mereka benar-benar terjun melayani masyarakat di berbagai institusi.
KLB kali ini dihadiri oleh delegasi dari 15 himpunan mahasiswa ilmu perpustakaan dari berbagai penjuru Indonesia. Kehadiran mereka menunjukkan soliditas yang masih terjaga kuat di level akar rumput. Di tengah riuhnya diskusi reorganisasi, hadir pula Khabibul Umam, S.IP., Direktur Pustaka Tungga sekaligus Dewan Pengawas Pengurus Pusat HMPII. Kehadiran beliau memberikan warna tersendiri, memastikan bahwa proses transisi kepemimpinan berjalan sesuai koridor organisasi namun tetap adaptif terhadap kebutuhan zaman.
Menariknya, dalam kesempatan tersebut, Khabibul Umam membawa sebuah pesan tersirat yang sangat relevan bagi lulusan Ilmu Perpustakaan: bahwa karier seorang lulusan informasi tidak lagi terbatas pada ruang-ruang rak buku konvensional. Melalui Pustaka Tungga, ia membuktikan bahwa sektor Librarypreneur adalah peluang nyata. Lulusan kita bisa berkiprah di sektor swasta, menjadi konsultan, hingga membangun bisnis berbasis pengelolaan informasi yang profesional dan inovatif.
Acara yang berlangsung hingga sore hari ini ditutup dengan semangat baru. Reorganisasi HMPII bukan hanya tentang memilih ketua baru, tetapi tentang mempertegas identitas bahwa mahasiswa ilmu perpustakaan adalah agen perubahan yang siap bertransformasi. Dengan kolaborasi antara senior di Perpusnas, IPI, dan praktisi kreatif seperti Pustaka Tungga, masa depan dunia informasi Indonesia tampaknya berada di tangan yang tepat.

sumber gambar: Dokumentasi Acara